Latar Belakang Penelitian Pendidikan Karakter Keislaman


Pendidikan merupakan langkah konkrit sebagai investasi masa depan dalam memajukan suatu bangsa. Negara Indonesia mempuyai dua kementerian yang mengurusi masalah pendidikan yaitu Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) yang menaungi pendidikan secara umum dan Kementerian Agama (Kemenag) yang salah satu bidangnya bergerak dalam bidang pendidikan agama. Kedua lembaga tersebut bersama-sama membangun bangsa ini dengan cara mencerdaskan warga masyarakat, meskipun dari segi keilmuan yang berbeda, akan tetapi kedua lembaga tersebut mempunyai tekad yang sama yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan kedua lembaga tersebut saling melingkapi secara keilmuan.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa[1]

Pendidikan Agama Islam pada Sekolah memiliki kontribusi positif yang cukup efektif bagi pembentukan watak dan karakter bangsa yang bermartabat sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang menyatakan bahwa:

Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab[2].

Sistem pendidikan Islam mempunyai empat ciri sebagaimana dikemukakan oleh Muhammad Quthb[3] yaitu sistem ibadat, pembinaan rohani, pendidikan intelektual dan pendidikan jasmani. Ciri yang pertama, sistem pendidikan sebagai sistem ibadat tidak hanya sebatas pada ibadat yang sudah dikenal seperti solat, puasa dan zakat. Melainkan suatu kebaktian yang hanya ditunjukan kepada Allah SWT, mengambil petunjuk hanya dari-Nya baik yang berkaitan dengan persoalan dunia maupun persoalan akhirat. Ibadat dalam hal ini mencangkup berbagai persoalan dan seluruh aspek kehidupan yang tidak terbatas pada ritual tertentu sebagaimana firman Allah dalam surat adzariyat ayat 56.


Kedua, pembinaan rohani, Dalam pandangan Islam rohani adalah pusat eksistensi manusia dan menjadi titik perhatian pandangan Islam. Rohani memiliki kekuatan yang paling besar, paling hebat dan paling kuat dibanding dengan kekuatan tubuh yang hanya terbatas pada sesuatu yang dapat terlihat saja.

Ketiga pendidikan intelektual, manusia diberikan karunia oleh Allah SWT lebih dari mahluk yang lainnya. Manusia diberi akal dan dengan akal tersebut manusia dapat menjadi kholifah di bumi. Karakter manusia salah satunya ditentukan melalui model pendidikan yang mereka peroleh selama dalam dunia akademik. dalam abad modern ini terdapat banyak para intelektual yang bangga dengan berbagai macam kemampuanya dalam bidang teknologi dan informasi, Akan tetapi kemampuan yang dimilikinya merupakan kesombongan belaka tanpa adanya penyeimbang dengan pengetahuan agama yang cukup komprehensif. Islam merupakan agama fitrah yang menganggap bahwa karakter manusia sudah terdapat ketika ia dilahirkan dan juga tanpa menghilangkan adanya pembentukan karakter dalam perkembangan jasmaninya. Agama islam memberikan bimbingan terhadap perkembangan karakter sehingga ia terhindar dari cengkraman hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Keempat pendidikan jasmani, kajian pendidikan jasmani dalam lingkaran dunia pendidikan bukan merupakan kesatuan yang terpisahkan antara bagian yang satu dengan yang lainnya, akan tetapi merukan sebuah kesatuan utuh sehingga pendidikan jasmani sangat mendukung  terhadap kekuatan terhadap etos kerja. Islam membina jasmani agar menjadi jasmani yang kuat sehingga dengan kemampuan yang dimilikinya manusia mampu membuat sebuah karya yang berguna bagi manusia lainnya.

Tokoh pendidikan karakter Thomas Lickona yang dianggap sebagai bapak pendidikan karakter yang menulis buku The Retrun of Character Education. Telah menyadarkan bangsa barat dan pendidikan secara umum bahwa bahwa pendidikan karakter merupakan sebuah keharusan.[4] Pendidikan karakter mencoba membangun bangsa yang dimulai dari sekolah agar mampu mengolah pikiran peserta didik menjadi manusia yang cerdas, mampu mengolah hati mereka agar berbudi pekerti yang luhur, mampu mengolah raga mereka untuk kemajuan bangsa Indonesia yang sehat dan berwibawa dan mampu mengolah rasa dan karsa peserta didik dengan menciptakan seni budaya khasanah bangsa yang beragam, dan mampu membuat peserta didik mempertahankan keberlangsungan hidup yang lebih baik.

Bangsa Indonesia sudah hampir kehilangan karakternya, hal ini terlihat banyaknya peserta didik yang mudah terpengaruhi hal yang negatif yang terdapat di lingkungannya. oleh karenanya para pendidik diharapkan dapat membina peserta didik di sekolah sebagai penerus bangsa, agar kelak menjadi manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur, beriman dan bertakwa dengan selalu mengintegrasikan keimanan dan ketakwaan (imtak) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang selalu berjalan beriringan.

Pembentukan karakter bangsa peserta didik sangatlah penting karena kemajuan bangsa dipegang oleh tangan peserta didik, dengan adanya pendidikan pembentukan karakter bangsa sangat diharapkan peserta didik dapat menunjukan jati diri sebagai cerminan dari jati diri bangsa Indonesia. Pembentukan karakter sangat erat kaitannya dengan pembentukan  moral, akhlak atau pendidikan budi pekerti dengan penanaman nilai-nilai yang terdapat dalam agama khususnya Islam.
Latar Belakang Penelitian Pendidikan Karakter Keislaman

Belum ada Komentar untuk "Latar Belakang Penelitian Pendidikan Karakter Keislaman"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel